Senin, 29 November 2010

EKOSISTEM PERAIRAN BESERTA FAKTOR LINGKUNGAN

EKOSISTEM PERAIRAN BESERTA FAKTOR LINGKUNGAN



OLEH

AYU ATIKA

LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2009







BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Hanya 3 % air di muka bumi adalah air tawar. Sebagian besar (kira-kira 99 %) daripada nya dapat membeku dalam gletser dan es atau terbenam dalam akuifer. Sisanya terdapat dalam danau, kolam, sungai, dan aliran, dan di situ menyediakan bermacam-macam habitat untuk komunitas hayati. Penelitian menunjukkan bahwa danau yang dalam terdiri atas tiga zona utama, masing-masing dengan ciri komunitas organisme. Tepian danau dinamakan zona litoral. Di sini cahaya sampai di dasarnya. Produsen di zona litoral ialah tumbuhan yang berakar sampai ke dasar dan juga algae yang menempel pada tumbuhan tadi dan pada setiap substrat padat lainnya. Ada berbagai macam konsumen, biasanya mencakup crustacea kecil, cacing pipih, larva serangga, dan siput, demikian pula bentuk yang lebih besar seperti katak, ikan, dan kura-kura (Kimball 1999 : 975-976).
Indonesia merupakan satu-satunya daerah khatulistiwa di dunia yang mempunyai pertukaran flora dan fauna perairan antar samudera. Lintasan-lintasan di Nusa Tenggara yang dahulu disebut kepulauan Sunda kecil, antara lempengan Sunda dan Sahul memungkinkan pergerakan antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia (Anonimd 2009 : 2).
Ekosistem perairan pesisir di Indonesia merupakan kawasan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian cukup besar dalam berbagai kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan di Indonesia. Wilayah ini kaya dan memiliki beragam sumber daya alam yang telah dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan utama, khususnya protein hewani. Dahuri (2002), meyatakan bahwa secara empiris wilayah pesisir merupakan tempat aktivitas ekonomi yang mencakup perikanan laut dan pesisir, transportasi dan pelabuhan, pertambangan, kawasan industri, agribisnis dan agroindustri, rekreasi dan pariwisata serta kawasan pemukiman dan tempat pembuangan limbah (Anonima 2009 : 1).
Ekologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu Oikos yang berarti ruamah atau tempat hidup dan Logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Anonime 2009 : 1).
Ekologi air tawar sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari . air tawar sendiri penting karena ia adalah sumber air rumah tangga dan industri yang murah, komponen air tawar merupakan daur hidrologis, dan ekosistem air tawar merupakan sistem disporsal/ pembuangan yang mudah dan murah. Beberapa faktor pembatas dalam ekosistem air tawar di antaranya ialah kejernihan, temperatur, arus, oksigen, garam biogenik dalam air dan sebagainya (Anonimc 2009 : 1).
Cahaya matahari merupakan sumber panas yang utama di perairan, karena cahaya matahari yang diserap oleh badan air akan menghasilkan panas di perairan. Di perairan yang dalam, penetrasi cahaya matahari tidak sampai ke dasar, karena itu suhu air di dasar perairan yang dalam lebih rendah dibandingkan dengan suhu air di dasar perairan dangkal. Suhu air merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas serta memacu atau menghambat perkembangbiakan organisme perairan. Pada umumnya peningkatan suhu air sampai skala tertentu akan mempercepat perkembang biakan organisme perairan (Odum 1993 : 179).
1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari ekosistem perairan beserta hubungannya dengan faktor lingkungan, mengetahui instrumen dan teknik-teknik pengukuran faktor-faktor fisika dan kimia lingkungan perairan, dengan terjun langsung ke lapangan bertujuan agar mampu membina mahasiswa agar terbiasa terjun ke lapangan untuk melihat permasalahan yang ada di alam dengan mengamati fenomena ekosistem dan perbedaan komponen biotik dan abiotik dari berbagai habitat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Di daerah dengan perubahan musim yang nyata sekali, pemanasan permukaan suatu danau dalam musim panas mencegah airnya bercampur dengan air yang lebih dalam. Hal ini disebabkan air hangat kurang padat atau pekat daripada yang dingin. Air permukaan mampu memperoleh oksigen terlarut, sebagian dari udara di atas dan juga karena terdapat di zona limnetik, sebagian dibebaskan ke dalam air dalam fotosintesis. Tetapi air di zona profundal, karena ditiadakan dari kedua sumber oksigen ini, menjadi tergenang. Akan tetapi, dalam musim gugur ketika air di permukaan menjadi sejuk, maka menjadi lebih pekat dan mengendap di dasar danau , dan membawa oksigen bersamanya. Hal ini disebut penjungkirabalikan musim gugur. Fenomena serupa, penjungkirbalikan musim semi, terjadi bila es meleleh. Sifat air menjelaskan perubahan ini (Kimball 1999 : 976).
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain adalah suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan (Anonime 2009 : 1).
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak mencolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam-macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya adalah tumbuhan biji. Hampir semua fillum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi. Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton yang merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang dan pencernaan. Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup (Anonimc 2009 : 1).
Danau merupakan kumpulan air yang seolah-olah berada dalam suatu baskom dan tidak mempunyai hubungan dengan laut atau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fiotik dan daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afiotik. Berdasarkan komunitas tumbuhan dan hewan yang tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi, danau dibagi menjadi empat daerah yaitu daerah litoral, daerah limnetik, daerah profundal,dan daerah bentik (Anonimc 2009 : 1).
Zona limnetik merupakan lapisan air terbuka dan di sini masih dapat terjadi produksi primer. Makin ke dalam kita turun ke dalam zona limnetik, jumlah cahaya yang tersedia untuk fotosintesis makin berkurang sampai pada kedalaman dengan laju fotosintesis produsen menjadi sama dengan laju respirasinya. Pada tahap ini, tidak terjadi prosuktivitas primer bersih. Zona limnetik lebih dangkal dalam air keruh daripada di air jernih, dan merupakan ciri yang jauh lebih penting bagi danau daripada bagi kolam. Kehidupan dalam zona limnetik didominasi oleh mikroorganisme terapung, disebut plankton, dna hewan yang berenang secara aktif, disebut nekton. Produsen dalam ekosistem ini adalah algae plankton. Konsumen primer mencakup crustacea terapung mukroskopik misalnya DaphniaCyclops dan rotifera. Hewan-hewan ini adalah Zooplankton. Nekton cenderung merupakan konsumen sekunder (atau lebih tinggi). Tercakup di dalamnya serangga yang berenang dan ikan. Pada umumnya nekton bergerak bebas di antara zona litoral dan zona limnetik (Kimball 1999 : 977).
Plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya, mengaoung, mengambang, atau melayang didalam air yang kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus. Plankton berbeda dengan nekton yang berupa hewan yang memiliki kemampuan aktif berenang bebas, tidak bergantung pada arus air, contohnya : ikan, cumi – cumi, paus, dll. Bentos adalah biota yang hidupnya melekat pada, menancap, merayap, atau membuat liang didasar laut, contohnya: kerang, teripang, bintang laut, karang, dan lain-lain (Anonimb 2009 : 1).
Banyak danau (tetapi sedikit kolam) yang sangat dalam sehingga tidak cukup cahaya mencapai ke dalam yang lebih bawah untuk menunjang produktivitas primer bersih. Zona ini dinamakan zona profundal. Karena tidak adanya produktivitas primer bersih, kehidupan dalam zona profundal untuk kalorinya bergantung pada bahan organik yang dialirkan dari zona litoral dan zona limnetik. Zona tadi terutama dihuni oleh konsumen primer yang hidup dari searah ini. Istilah benthos digunakan untuk menggambarkan setiap organisme yang hidup di tepi dasar. Sedimen yang terdapat di dalam zona profundal juga menunjang populasi besar dari bakteri dan fungi. Pembusuk ini menguraikan bahan organik yang mencapainya, membebaskan nutrien anorganik untuk daur ulang. Dengan aktivitas kedua mikroorganisme itu bagian akhir energi yang mengalir melalui jaring-jaring makan di danau dihamburkan ke alam sekitarnya (Kimball 1999 : 976).
Tempat tinggal yang disediakan oleh sungai dan muara adalah berbeda jika dibandingkan dengan danau dan kolam. Sebab aliran air akan senantiasa menambah oksigen. Banyak spesies yang hidup di sini, seperti ikan telah beradaptasi dengan kadar oksigen tinggi. Bila hal ini menjadi tereduksi, misalnya disebabkan oleh polusi limbah atau materi organik lain dapat menjadikan pertumbuhan ikan secara massal. Walaupun fotosintesis dapat ditemukan di muara, tapi itu memainkan peran yang lebih kecil (pada rantai makanan) dibandingkan dalam danau dan kolam. Bagian terbesar dari energi yang tersedia untuk konsumen di air yang mengalir berasal dari daratan seperti dari daun jatuh (Kimball 1999 : 977).
Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen. Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, yaitu phyton atau tanaman dan πλαγκτος atau planktos yang berarti pengembara atau penghanyut. Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam jumlah yang besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena mereka mengandung klorofil dalam sel-selnya, walaupun warna sebenarnya dapat bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena kandungan klorofil yang berbeda beda atau memiliki tambahan pigmen seperti phycobiliprotein (Anonima 2009 : 1).
Seperti juga danau, lautan dapat digambarkan dalam istilah zona, dan banyak persamaan di antara keduanya (tapi sayangnya ada pemisahan istilah yang digunakan untuk masing-masing). Pinggiran lautan disebut zona intertidal. Daerah ini terdiri atas pasir, pantai, karang, muara dan di daerah tropik dan subtropik, ada rawa mangrove dan gosong karang. Beberapa dari habitat ini misalnya rawa pantai adalah sangat produktif, didukung oleh kekayaan dan keanekaragaman populasi dari produsen dan konsumen. Banyak dari organisme di zona intertidal telah beradaptasi sehingga mereka dapat bertahan terhadap tenaga gelombang dan keterbukaan peroiodik terhadap udara. Lautan yang relatif dangkal yang meluas ke pinggiran selat benua dinamakan zona neritik. Zona oseanik terdapat di atas lembah lautan. Produktivitas primer di zona neritik dan zona oseanik bergantung pada algae planktonik yang hidup sejauh cahaya matahari dapat sampai.aktivitas ini menunjang zooplankton yang pada gilirannya menunjang konsumen sekunder dan konsumen yang lebih tinggi umpamanya ikan, dalam nektonmeskipun kehidupan beragam, produktivitas bersih dari lautan terbuka ini agak lebih baik daripada yang terdapat di padang pasir (Kimball 1999 : 977-978).
Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya terombang-ambing oleh arus di lauan bebas. Mereka terdiri dari makhluk-makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (fitoplankton). Zooplankton sebenarnya termasuk golongan hewan perenang aktif yang dapat mengadakan migasi secara vertikal pada beberapa lapisan perairan tetapi kekuatan berenang mereka sangat kecil jika dibandingkan dengan kuatnya gerakan arus itu sendiri (Hutabarat 1986 : 1).
Dasar lembah lautan ialah daratan abisal. Daerah gelap yang relatif tidak beragam ini banyak dihuni oleh populasi tipis konsumen bentik dan bergantung pada bahn organik yang mengalir dari bagian atas laut. Akan tetapi, eksplorasi baru-baru ini di laut dalam menyingkapkan bahwa ada komunits yang kompleks terdapat di sekitar celah-celah. Celah-celah ini menimbulkan retak-retak di dasar laut.(dimana benua sedang terjadi). Meskipun tidak ada cahaya matahari sampai sejauh itu produktivitas energi yang dijamin oleh oksidari belerang dalam air yang mengalir keluar dari retak-retak dasar laut. Bakteri ini menunjang populasi hewan yang besar. Di antara yang paling menonjol ialah cacing (tergolong ilum kecil yang disebut Pogonophora) yang tidak mempunyai sistem pencernaan. Sementara cacing ini dapat menyerap bebrapa molekulorganik di alam sekitarnya, mereka juga menyimpan (dalam jaringan khusus di dalam tubuh mereka) sejumlah besar bakteri kemoautotrof yang dapat menyediakan kalori bagi mereka (Kimball 1999 : 978).

























BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum lapangan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2009, pada pukul 08.30 sampai dengan 11.30 WIB, bertempat di danau Tanjung Pering di belakang kampus Universitas Sriwijaya, Inderalaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang diguanakan adalah baki plastik, kantong plastik ukuran besar dan sedang, botol vial, ember ukuran 10 Liter, kertas label, pinset, plankton net, saringan santan, saringan bentos, Secchi disk, dan Ekman grab, sedangkan bahan yang digunakan adalah formalin 4 %.
3.3. Cara Kerja
Dilakukan kegiatan dengan terjun langsung ke lapangan yang mewakili beberapa habitat, dilakukan pencarian organisme biota perairan, lalu dilakukan pengukuran faktor-faktor lingkungan sesuai dengan alat yang tersedia, dilakukan dengan hati-hati dalam penggunaan alat-alat instrument yang bersifat elektronik dan sensitive, dilakukan analisis sampel baik di lapangan maupun di laboratorium.








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
No. Gambar Kelompok & Klasifikasi






1.



Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobranchiata
Famili : Penaeidae
Genus : Penaeus
Spesies : Penaeus monodon
Kelompok : Benthos



































4.2. Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan yaitu ekosistem perairan beserta faktor lingkungannya, yaitu kegiatan kuliah lapangan yang dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pencarian organisme biota perairan dan pengukuran faktor-faktor lingkungannya, organism-organisme yang ditemukan dalam ekosistem perairan pada danau Tanjung Pering yang terletak di daerah belakang kampus Universitas Sriwijaya adalah spesies golongan Benthos yaitu Penaeus monodon (Udang Kecil) dan spesies golongan Plankton yang belum teridentifikasi.
Dalam praktikum ini, digunakan formalin 4%. Tujuan penggunaan formalin ini adalah untuk menyimpan specimen yang diperoleh agar tidak rusak atau untuk pengawetan specimen hingga specimen telah teridentifikasi. Berdasarkan hasil Pengamatan spesies bentos yang ditemukan, dapat dilihat bahwa karakteristik bentos spesies Penaeusmonodon adalah bahwa spesies ini memiliki ukuran tubuh yang kecil dan tubuhnya berwarna kuning keputihan. Sedangkan jenis plankton yang diperoleh pada saat praktikum belum teridentifikasi sehingga belum diketahui golongan plankton yang ditemukan ordo dan genusnya. Menurut Monodon (2009 : 1), sifat Penaeus monodon antara lain adalah nocturnal yaitu aktif pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur, mencari makan di dasar perairan (benthic), pada stadium larva terjadi molting setiap 30-40 jam pada suhu 280o C.
Suhu air yang tinggi dapat menambah daya racun senyawa beracun seperti NO3, NH3 dan NH3N terhadap hewan akuatik, serta dapat mempercepat kegiatan metabolismenya. Sumber utama senyawa ini berasal dari limbah yang mengandung bahan organik protein. Oksigen terlarut sangat penting bagi pernafasan zoobenthos dan organisme-organisme akuatik lainnya. Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh faktor suhu, yaitu pada suhu tinggi kelarutannya rendah dan pada suhu rendah kelarutannya akan meningkat. Berdasarkan kandungan oksigen terlarut dapat dikelompokkan kualitas perairan menjadi empat yaitu tidak tercemar (> 6,5 mg/L), tercemar (4,5 - 6,5 mg/L), tercemar sedang (2,0 - 4,4 mg/L), dan tercemar berat (< 2,0 mg/L). Nilai pH menunjukkan derajat keasaman atau kebasaan suatu perairan serta toleransi organisme air terhadap pH bervariasi (Odum 1993 : 89).
Plankton adalah organisme yang lemah yang hidupnya melayang di permukaan laut. Planton tidak dapat bertahan hidup pada perairan yang mengalami pencemaran seperti adanya limbah dari pabrik semen. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan plankton antara lain yaitu air (temperature, pH, salinitas, kandungan oksigen terlarut, kandungan nitrat dan posfat). Faktor pembatas bagi kehidupan fitoplankton adalah nitrat dan posfat (Anonimf 2009 : 1).
Menurut Odum (1993 : 88), struktur komunitas zoobentos dipengaruhi oleh berbagau faktor lingkungan baik abiotik maupun biotik. Secara abiotik, faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan makrobentos adalah faktor fisikimia lingkungan perairan, di antaranya yaitu penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap suhu, air, substrat dasar, kandungan unsure kimia seperti oksigen terlarut dan kandungan ion hidrogen (pH) dan nutrient. Sedangkan secara biologis, di antaranya yaitu interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas. Cahaya matahari merupakan sumber panas yang utama di perairan, karena cahaya matahari yang diserap oleh badan air akan menghasilkan panas di perairan. Di perairan yang dalam, penetrasi cahaya matahari tidak sampai ke dasar, oleh karena itu suhu air di dasar perairan yang dalam lebih rendah dibandingkan dengan suhu air di dasar perairan dangkal. Suhu air merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi serta memacu atau menghambat perkembangbiakan organisme perairan.






BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum Ekosistem Perairan beserta Faktor Lingkungannya, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kelas Crustacea merupakan organisme perairan yang termasuk ke dalam golongan Benthos
2. Plankton hidup melayang-layang di permukaan perairan atau bergerak mengikuti arus aliran air.
3. Formalin 4 % digunakan sebagai bahan pengawet specimen agar tidak mudah rusak.
4. Kelarutan oksigen dalam suatu perairan dipengaruhi oeh faktor suhu yaitu pada suhu rendah kelarutan akan meningkat dan sebaliknya.
5. Faktor fisika kimia yang mempengaruhi kehidupan plankton dan makrobenthos antara lain adalah temperatur, pH, salinitas, oksigen terlarut, kandungan nitrat dan posfat, penetrasi cahaya, serta interaksi antarorganisme itu sendiri.















DAFTAR PUSTAKA


Anonima. 2009. www.wikipedia.org/ekosistem perairan plankton. Artikel. diakses pada 9 Juni 2009 : 20.30.

Anonimb. 2009. www.beritabumi.or.id/plankton dapat memperlambat proses pemanasan bumi. Artikel. diakses pada 9 Juni 2009 : 20.30.

Anonimc. 2009. www.arifqbio.multiply.com/ekosistem. Artikel. diakses pada 11 Juni 2009 : 16.30.

Anonimd. 2009. www.manggaraibaratkab.go.di/ekosistem perairan. Artikel. diakses pada 11 Juni 2009 : 16.30.

Anonime. 2009. www.bebas.vslm.org/ekologi. Artikel. diakses pada 11 Juni 2009 : 16.30.

Anonimf. 2009. www.usu.library.ac.id. Artikel. diakses pada 16 Juni 2009 : 10.00.

Hutabarat. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton.Universitas Indonesia : Jakarta.

Kimball, J. W. 1983. Biologi Edisi Kelima Jilid Dua. Erlangga : Jakarta.

Monodon. 2009. www.mengenaludangwindu.blogspot.com/teknologi budidaya udang. Artikel. diakses pada 16 Juni 2009 : 7.30.

Odum. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Gajah Mada University press : Yogayakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar